Read More http://www.kevinandamanda.com/whatsnew/tutorials/how-to-use-a-cute-font-for-your-blogger-post-titles.html#ixzz16DYWzt4y

August 26, 2009

Another Post about Jacko

Beberapa waktu yang lalu dunia dikejutkan dengan kematian seorang entertainer terkenal, seseorang yang sangat berbakat dan fenomenal. Berminggu-minggu setelahnya, banyak media yang menayangkan kisah hidupnya, pemakamannya, dan konser-konsernya.

Jujur, saya bukan penggemar beratnya (yah, ada beberapa lagunya yang saya sukai). Sewaktu remaja saya pernah membaca kisah hidupnya dan herannya itu membekas dalam ingatan saya. Saya pun mengikuti berita kematiannya, upacara kematiannya, dan dua konsernya melalui sebuah channel televisi.

Pada saat saya melihat tayangan konsernya, yang membuat saya terkejut adalah respon para penggemarnya. Mereka begitu antusias mengikuti lagu-lagu yang dinyanyikannya, meneriakkan namanya, mengelu-elukan dia, dan menangis melihat pujaan mereka. Saat dia mengangkat tangan dan menggerakkannya sesuai irama lagu, serentak mereka mengikuti tanpa perlu disuruh. Saya yakin mereka membeli tiket jauh-jauh hari sebelumnya, berusaha mendapatkankan kursi terdepan, berdandan sebaik-baiknya, mempersiapkan hadiah, membuat banner, datang sebelum waktunya, dll.

Saya berpikir,”Andaikan kita seperti itu terhadap Tuhan.” Dalam setiap ibadah, beberapa baris kursi terdepan adalah barisan kursi panas yang paling dihindari, ada begitu banyak kursi kosong sebelum ibadah dimulai, memuji Sang Pencipta dengan tidak sepenuh hati (berpikir,”Cukuplah aku tepuk tangan dan bersuara.”), datang tanpa membawa surat cinta-Nya (Alkitab).

Beda sekali respon kita terhadap bintang pujaan kita dan Sang Bintang yang sesungguhnya. Wow…tidakkah kita miris melihat hal ini? Marilah kita renungkan untuk siapa kita datang setiap Minggu dan untuk apa kita datang? Hanya untuk menyenangkan manusia sajakah? Jika demikian, kita tidak menempatkan Dia sebagai yang terutama dalam hidup kita.

Hidup ini bukanlah mengenai kita, tapi semuanya adalah tentang Allah. Kalau kita bekerja/ sekolah, itu untuk Tuhan. Kalau kita beribadah, itu juga untuk Tuhan. Apapun juga yang kita lakukan adalah untuk Tuhan. Lain dari itu berarti kita memiliki ilah lain.

Saya sedang belajar menghidupi Kolose 3.23,”Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. “ Bukan suatu hal yang mudah bagi saya, tapi Roh Kudus akan selalu memampukan saya melakukan apa yang Tuhan mau. Maukah Anda bergabung bersama saya menjawab kerinduan Tuhan dengan menghidupi ayat ini?

No comments:

Post a Comment